Dokumen Pribadi




Data Buku:
Judul      : Negeri Ganjil
Penulis   : Hendratno
Penerbit  :Delima
ISBN      : 978-502-53505-1-1
Tebal      : xviii + 110 halaman
Tahun     : November 2018

Setiap jiwa memiliki keresahan-keresahan dalam memandang segala yang ada di sekitarnya. Sebagian manusia mampu menyampaikan pemberontakan batin secara lisan ketika dihadapkan pada ketidaknyamanan, ketidakadilan, ketimpangan hidup. Tapi tak sedikit pula manusia dibenturkan pada keadaan yang membuat mereka harus tak bersuara.

Hendratno - dosen Universitas Negeri Surabaya yang juga sangat konsen di dunia sastra, penulis buku ini berusaha menyadarkan kita bahwa menyampaikan sesuatu tidak harus dengan suara yang lantang. Sebuah tulisan juga mampu membangunkan pikiran manusia dan mengubah keadaan, karena tulisan lebih abadi dari apapun seperti yang disampaikan Pramoedta Ananta Toer,"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)."

Dalam bukunya, penulis menyajikan  kumpulan sajak dari fragmen-fragmen yang ditangkap dari berbagai keadaan.

Judul buku sekumpulan sajak “Negeri Ganjil” menyiratkan banyak pertanyaan. Membuat penasaran pembaca tentang apa yang akan disampaikan penulis melalui sajak-sajaknya. Saya sangat yakin dari 108 sajak dalam buku ini akan mewakili setiap rasa kekecewaan, kegundahan, juga kepasrahan sebagai manusia yang tak punya daya tanpa Tuhannya. 

"Betapa ganjilnya negeri ini
Padi melimpah di hamparan sawah
Masih saja membeli di negeri sebelah" 

Tiga kalimat ini ditulis di halaman awal sebelum sajak-sajaknya. Seolah ingin menegaskan bahwa segala yang tabu untuk dibicarakan kenyataannya keliaran di pandangan kita.

Tak seperti biasanya saya membaca buku puisi secara acak. Kali ini saya membaca dari awal halaman ke lembar-lembar berikutnya sampai saya berhenti pada satu puisi berjudul" Pohon Asam Depan Rumah"

Dulu ujung halamanku dua puluh meter dari jalan besar.
Sekarang tinggal sejengkal 
Dimakan zaman
Pohon asam dilindas oleh buldozer
Pohon nangka hilang entah ke mana 
Tak ada ganti rugi
Tak ada yang peduli (sajak hal 9)

Fenomena di mana tanah lapang sudah langka. Tak ada lagi pemandangan sejuk oleh rindangnya pohon atau lapangan luas tempat anak-anak bermain layang atau bola. Semua disulap menjadi gedung-gedung tinggi juga megah, tapi tak semua manusia mampu masuk ke dalamnya. 

Saya semakin bergeming ketika membaca sebuah sajak pendek dengan judul " Menjual Agamamu Lagi." Sajak paling pendek dalam buku ini.

Agar kamu masuk surga sendiri
Yang lain persetan (sajak hal 35)

Penulis sajak pendek ini berusaha menyadarkan kita dari amnesia. Betapa kita sudah lupa bagaimana agama mengajarkan tentang kedamaian.Tidak jarang kita melihat saudara kita saling mencela, bertikai hanya mempermasalahkan akidah. 

Dalam buku ini, penulis juga berusaha me-review ingatan di tahun 1990 dengan setting pasar Wonokromo. Sajak yang berjudul "Sepanjang Rel Kereta Api Tahun 1990-an," menceritakan tentang dua manusia yang berjuang mempertahankan hidup dengan cara tak layak. Entah karena nasib atau hanya karena tak ada kesempatan lebih baik bagi mereka.

Sambil bercanda dengan teman wanitanya.
Cukup untuk sebulan makan, katanya.
Sembari membuang dompet sekenanya setelah menguras isinya.
Pelacur, gincu tebal dan wangi minyak murahan menusuk hidung.
Menunggu dengan sabar lelaki hidung belang yang menawar dengan
Harga yang tak wajar. (Nukilan sajak hal 29)

Bagi yang suka dengan sajak-sajak tentang cinta, jangan khawatir. Buku ini juga menyampaikan perasaan cinta baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan lewat sajak-sajaknya yang kuat. 

Kumpulan sajak penghapus keresahan

Buku kumpulan sajak Negeri Ganjil merangkum berbagai realita hidup yang tak pernah sempurna. Manusia tak mungkin hanya memandang kebahagiaan atau kewajaran di mana-mana. Namun sebaliknya, karena kesedihan dan ketidakwajaran itu lebih mendominasi dalam hidup. 

Dan saya masih yakin, puisi adalah salah satu cara kita bersuara dan membebaskan kita dari keresahan, karena sejatinya setiap puisi akan selalu menyuarakan tentang kemanusiaan.




Wajah Aira terlihat merah; marah. Beberapa kali ia mencoret kalimat yang ia tulis pada selembar kertas di meja. Bu Shifa, guru kelasnya meminta ia menulis cerita pendek untuk mengikuti lomba antar kelas. 
“Aira yang akan mewakili kelas kita ya, nak,” Tukas Bu Shifa pagi itu dan Aira menganggukkan kepala tanda setuju. 
Ia sangat suka sekali menulis, tetapi entah hari ini tak ada satu ide pun yang bisa ia jadikan sebuah cerpen. Bahkan di kamar tempat ia biasa merasa nyaman untuk menulis. Karena kesalnya ia merobek kertas  di depannya menjadi sobekan-sobekan kecil; meremasnya dan melempar sesukanya. Mukanya ditekuk seperti lipatan baju yang kusut.
“Aduh, kenapa sampai melempar seenaknya gitu sih?” Suara Kak Fara terdengar sembari masuk kamar Aira. 
“Sebel, dari tadi gak ada ide nulis cerpen buat lomba,” Gerutunya.   
Aira merebahkan tubuhnya yang kurus di tempat tidur berspei polkadot warna merah. Ia merangkul guling kesayangannya sambil memiringkan badan dan memunggungi Kak Fara yang duduk di pinggir tempat tidur. Tangan Kak Fara mengelus rambut adik kesayangannya itu. 
“Kalau pikiran sedang lelah, istirahat saja dulu.” Ucap Kak Fara sambil terus mengelus rambut Aira.
“Besok cerpen itu harus selesai dan dikumpulkan, Kak.”
“Iya, tapi tidak harus dengan merobek dan membuang kertas dengan percuma, kan? Kalau saja Aira tahu berasal dari apa selembar kertas itu dibuat, pasti akan memanfaatkan dengan baik lembaran-lembaran kertas itu.” 
Beberapa detik kemudian Aira langsung memutar tubuhnya menghadap Kak Fara. Ia menatap wajah kakaknya dengan penasaran. 
“Memangnya darimana kak?”
“Lembaran-lembaran kertas itu dibuat dari pohon yang sudah ditanam selama lima tahun. Satu pohon berusia lima tahun itu hanya bisa menjadi lebih kurang 80.000 lembar kertas.”
“Biasanya dari pohon apa saja yang digunakan membuat kertas?” Tanya Aira semakin penasaran.
“Kertas dibuat dari kayu yang berasal dari pohon kayu lunak misalnya pohon pinus.”
“Hmm….begitu ya,” Suara Aira terheran-heran karena ia baru tahu asal dari selembar kertas yang biasa ia gunakan menulis.  
Aira mengubah posisi tubuhnya. Saat ini ia duduk sambil tetap memangku guling di atas tempat tidurnya. Ada yang dibayangkan dalam pikirannya, tetapi lamunannya segera hilang mendengar suara kak Fara melanjutkan ceritanya.
“Kalau saja semua orang tahu bagaimana proses membuat kertas pasti mereka akan selalu berhemat dan berhati-hati dalam menggunakannya. Bayangkan saja, butuh waktu lima tahun untuk bisa memproduksi 80.000 lembar kertas dari sebuah pohon.”
“iya, kak. Ternyata banyak sekali ya manfaat dari sebuah pohon?”
“Tentu, selain bisa digunakan membuat kertas, pohon juga bisa memproduksi oksigen yang dihirup oleh manusia. Polusi udara juga bisa diatasi dengan adanya banyak pohon. Dan itulah kenapa alasan ayah dan ibu kita menanam pohon di pekarangan belakang rumah kita.”
“Ahaaa, aku jadi punya ide nih menulis cerpen untuk lomba besok.” Tiba-tiba Aira mengangguk-anggukan kepala sambil menjentikkan jari jempol dan jari tengahnya. Iapun memeluk tubuh kakaknya sambil berbisik, “Kak Fara memang hebat.” 
Akhirnya Aira menulis cerpen tentang “Gadis Kecil Penghuni Hutan Pinus” dan ia yakin besok akan siap mengikuti lomba cerpen antar kelas di sekolahnya.




Sebagian manusia memiliki keterbatasan dalam memahami apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tak sedikit yang menjadi korban dari ketidakmampuan mengatasi konflik batin dan pada akhirnya memicu melakukan tindakan-tindakan di luar nalar. 

Hidup itu haruslah ideal, baik-baik saja, tak perlu ada kegagalan, tak boleh ada kecewa. Siapa yang tak ingin semua ini? Tapi kita lupa bahwa hidup itu dinamis. Beberapa hal tersebut penyebab manusia selalu memelihara rasa takut. Terlebih hal ini akan terjadi pada orang yang dalam hidupnya selalu ada pada zona nyaman.

Avianti Armand mencoba mengusik pembaca dengan hal-hal unik seperti konflik cinta; ketidakharmonisan keluarga; beberapa pertanyaan atas eksistensi manusia. Dalam bukunya, ia menyajikan kumpulan cerpen dengan alur cerita yang tak terduga-duga. 

Judul buku kumpulan cerita “Kereta Tidur” diangkat dari salah satu cerpen dari lima belas cerita di dalamnya. Saya mencoba lebih awal menebak sejumlah cerpen di dalam buku ini pasti berkisah tentang sebuah petualangan atau mungkin saja perjalanan hidup seseorang. Dan ternyata di luar ekspektasi, pada cerpen “Kereta Tidur”, Avianti Armand—sebagai penulis buku ini—jauh menceritakan tentang petualangan batin dua manusia, bagaimana mereka menjaga rasa pada sebuah relationship yang tak wajar.

“Kita akan lupa,” Naomi mengeluh, sedikit sedih sedikit khawatir, meski tak bisa berbuat lagi. Mereka memang harus cukup puas dengan memori yang melekat pada benda-benda kecil.
“Kelak,” ujar lelaki itu yakin, “kita akan punya tempat untuk memajangnya. Ketika bulan lega dan segaris oranye di kaki langit.” (Kereta Tidur: 101)

Manusia—mungkin saja diantaranya saya, kamu, atau kalian—terlalu sibuk menciptakan kenangan-kenangan dalam setiap tipak perjalanan hidup, tetapi kita sering lupa menjaganya. Dalam cerpen ini, Avianti begitu jelas memotret tentang cerita yang bertolak belakang dengan kehidupan ideal atau kisah cinta yang wajar. Tentang sebuah perasaan sayang pada orang dan waktu yang tidak tepat, namun tak pernah ada kata korban atau dikorbankan.  

Avianti berusaha menegaskan pada cerita ini bahwa bahagia itu begitu sederhana, sesederhana Naomi (tokoh dalam cerita) menamai diri mereka: pengumpul “souvenir”- hal-hal kecil yang mampir sejenak, mengikat dia, lelaki itu, dan tempat-tempat. Seperti subuh ini, kamar ini, surat kabar kemarin, genggaman tangan di bawah bantal, remah keringat pada selimut, rambut kusut, senyum mengantuk, kopi asam yang tak pernah habis, dan cangkir biru laut yang menyisakan asap.

Namun, saya sangat yakin, jika salah satu dari kita membaca cerpen ini lalu menarik pada pemahaman agama, tentu kita akan memicingkan mata berusaha mencari di mana letak kebenaran dalam hubungan terlarang antara Naomi dan lelakinya. 

Tidak jarang relasi antara agama dan sastra memunculkan pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif. Begitu pula beberapa cerita pada buku ini. Kita lihat saja bagaimana tokoh dalam cerpen berjudul Matahari begitu sibuk mempertanyakan tentang Tuhan pada kekasihnya: ”Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan bukanlah matahari?”

Atau pada cerita berjudul Ayah yang mengisahkan lelaki tua yang selalu memberikan ciuman pada malaikat kecilnya dengan meninggalkan perih dan bekas yang semakin membuat ia meringis kesakitan,” Kamu seorang perempuan sekarang, ujarmu, dulu kamu adalah malaikat. Aku lebih suka disebut bejat. Sebab kini kita telah bercinta, di batas antara tanah dan air, di bawah ribuan bintang dan sapuan ombak, walau aku tahu itu tabu.” (Kereta Tidur: 110).

Inilah kenapa kita tidak selamanya bisa memperdebatkan karya sastra dengan hukum agama yang hakikatnya selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat, sedangkan jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat. Istilah chatarsis yang dikemukakan oleh Aristoteles menandakan bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif. 

Dalam buku ini, kalian juga akan temui sebuah cerpen yang paling pendek diantara cerpen lainnya: Pelajaran Terbang, cerita sebuah pertentangan batin manusia, antara mimpi dan realita, juga segala konsekuensinya. Avianti mengawali cerita dengan membenturkan manusia pada ketakutan-ketakutan yang seringkali menghentikan kita pada perbatasan. Antara rasa takut dan berani, waras dan gila.

“Kamu takut, tapi juga bergairah. Kamu akan sedih karena keterbatasanmu, tapi juga sadar, bahwa ini hanyalah soal pilihan. Pulang – tanpa pernah mencoba – dengan utuh dan selamat, atau sekali saja, hanya sekali saja sebelum mati, kamu merasakan terbang. Kamu mungkin mati, mungkin juga tidak.” (Kereta Tidur: 121)

Manusia tidak bisa menghindari perasaan takut, bahkan pada titik tertentu manusia berusaha menyelamatkan dirinya dari rasa takut dengan cara yang terkadang diluar dari prediksi kita. Misalkan saja sebuah kasus, seorang manusia yang ingin menangis, berteriak tapi takut dianggap gila, atau manusia yang ingin mati tapi takut bunuh diri, atau manusia petualang yang setelah melampiaskan birahinya, menghilang karena takut akan kehancuran karir dan nama baiknya. Memutuskan memilih zona aman adalah salah satu reaksi yang bisa dilakukan untuk merespon kasus-kasus tersebut. 

Dalam cerpen ini, Avianti berhasil menarasikan dengan baik bagaimana manusia harus melawan  dirinya sendiri. Ia memberi sebuah gambaran bahwa hidup bukan hanya sekedar bagaimana kita  merangkul rasa sakit dan takut, melainkan bagaimana sebuah keberanian menentukan pilihan mengakhiri rasa sakit dan takut dengan segala konsekuensi. 

Hal ini nampak pada ending cerita, di mana “aku” telah berhasil menyelesaikan pemberontakan dalam batinnya,”jika aku bisa terbang, maka aku akan melayang di udara seperti elang. Jika Tidak, aku cukup bahagia untuk jatuh.” (Kereta Tidur: 122)

Buku tentang sebuah perjuangan

Buku kumpulan cerita Kereta Tidur adalah sebuah gambaran realita hidup di sekitar kita yang bisa dialami oleh siapa saja. Kisah tentang perjuangan baik dalam kewajaran maupun ketidakwajaran. Perjuangan bagaimana mencintai, mendapatkan cinta, menunggu, meninggalkan, menjaga kenangan, melawan rasa takut, bahkan perjuangan meyakini sesuatu yang tidak semua orang mampu paham.

Apakah perlu membaca semua cerpen dalam buku ini setelah apa yang saya tulis? 

Tentu, setidaknya kita akan tahu betapa hidup itu tak hanya putih atau hitam, dan sedikit belajar bertanggung jawab atas rasa yang sudah kita bangun. Lebih dari itu, yang sangat menarik dari buku Kereta Tidur, sebuah cerita penutup yang mengajarkan betapa sebuah keyakinan itu dibutuhkan dalam setiap relasi. Pembaca bisa melihat begitu kuat keyakinan tokoh pada cerpen: “Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu.” dalam mencari cintanya. Ia menulis sebuah pesan dalam botol: “Aku akan mencarimu, sampai kau hilang lagi.”





Google.com

SEPULUH BULAN BERJALAN, SEORANG LELAKI TERUS MENANTI ISTRINYA YANG AKAN MEMBERINYA KETURUNAN.

“Apa ada masalah dengan kandunganmu, dik?” tanyanya kepada istrinya. “Sebaiknya besok kau ke rumah sakit untuk periksa calon anak kita. Mungkin saja kau salah menghitung bulan kehamilanmu,” lanjut lelaki itu dengan perasaan cemas.
 Wanita itu hanya diam karena menganggap suaminya itu sangat berlebihan. Hal itu terjadi karena janin yang ada dalam kandungan istrinya adalah impian yang ia tungu-tunggu selama lima tahun pernikahan mereka. Wanita itu malah sibuk menyelesaikan rajutannya yang hampir jadi. Ia sudah menyimpan hasil rajutan sepatu bayi yang ketiga belas dalam keranjang baju di atas buffet ruang tidurnya. Hari-harinya diisi dengan membuat sepatu rajut yang ia pelajari dari youtube.
“Kenapa kau tidak khawatir sama sekali dengan kandunganmu, dik?” suaranya kali ini agak tinggi sambil meraih remote control TV dan menekan tombol off. Mendadak sunyi dan mungkin itu lebih baik karena berita di televisi sekarang banyak membuat hati pemirsanya cemas. Sudah tak ada hiburan di sana. Yang ada hanya berita perselingkuhan yang diakhiri dengan pembunuhan, berita seorang anak yang depresi dan bunuh diri karena gagal masuk perguruan tinggi negeri, berita bom yang mengatasnamakan jihat, atau berita korupsi yang tak pernah ada hukum mampu menjerat karena pelakunya para penguasa.
“Iya, kang. Aku besok akan ke rumah sakit. Tapi jangan ngomel terus. Sekarang kita tidur saja dulu.” Jawab wanita itu sambil susah payah berdiri dari kursi karena perutnya yang sudah sangat besar. Ia mematikan lampu di beberapa ruangan dan menuju kamar. 
***
Malam makin menggantung semua pertanyaan yang ada dalam benak lelaki separuh baya itu. Sudah dua minggu ini matanya susah sekali terpejam dengan tenang. Hanya hitungan menit ia bisa lelap dan selebihnya ia terjaga lagi. Ia berusaha mengingat apa yang membuatnya seperti ini. Ia menghitung situasi seperti ini dialami beberapa kali dalam hidupnya. Awal sekali ketika ia akan meminang Sumi – perempuan yang saat ini akan memberi keturunan padanya. Enam tahun lalu, tepatnya ketika mereka sama-sama merantau dan kuliah di perguruan tinggi yang sama. Sumi satu tingkat di bawahnya dan ia benar-benar ingin meminangnya.
“Aku sudah kehilangan ibu sejak aku kecil. Aku tak mau lagi merasakan kehilangan. Apakah kelak ketika kau bosan denganku juga akan meninggalkan aku sendirian?” tanya Sumi padanya. Ia memeluk – erat dan berjanji tidak akan meninggalkan sampai kapanpun. Satu minggu menjelang pernikahan, ia diserang insomnia. Gelar Sarjana yang ia dapat belum juga membawa dirinya pada kemapanan hidup, tapi ia sudah berjanji akan menikahi Sumi. Ia membayangkan bagaimana bentuk pernikahan yang akan ia jalani dengan Sumi. Apakah ia mampu memberi kebahagiaan Sumi secara finansial, sedangkan terkadang perutnya sendiripun masih sering ia hibur dan ia bohongi. Apakah ia benar-benar cinta dengan Sumi? Apakah ia akan bisa setia pada Sumi? Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu akhirnya lewat juga setelah melewati resepsi pernikahan yang sederhana. Sangat sederhana dan beruntung Sumi adalah wanita yang tak pernah menuntut apapun darinya.
Tahun pertama, kedua semuanya masih sangat indah. Apakah ada yang lebih membahagiakan memiliki istri yang ikhlas dengan hari-hari tak tentu. Pekerjaannya sebagai penulis lepas membuat ia tak pernah menjanjikan hal yang berlebihan pada Sumi.
“Dik, kita harus berhemat. Honorku dari perusahaan yang memakai jasaku belum juga masuk ke rekening,” ucapnya ketika ia harus menahan keinginan istrinya untuk mengirim uang pada adiknya di kampung. “Belum juga kontrakan kita yang tinggal tiga bulan lagi sudah habis dibayar lagi.” Sumi hanya senyum, entah senyum ihklas, getir, atau senyum pasrah dengan keadaan. Yang pasti Sumi selalu setia menemaninya selama dua tahun ini dengan keadaan yang serba sederhana. Cinta Sumi padanya benar-benar teruji.
Tahun-tahun berikutnya adalah tahun yang sangat sepi. Rumah kontrakan berukuran enam puluh meter persegi itu masih saja sepi. Tak ada suara tangisan bayi yang haus minta tetek ibunya atau suara kaki-kaki bocah kecil yang berisik berlarian keluar dalam rumah. Hanya ada suara tombol-tombol huruf pada laptop yang membentuk irama indah serupa musik klasik yang sangat ia suka. Itupun terdengar ketika malam telah datang, ketika semua penghuni bumi sedang melepaskan harapan mereka pada mimpi, meninggalkan sebagian beban mereka pada langit gelap. Ini adalah kali kedua ia dihampiri insomnia berminggu-minggu.
Setiap kali malam datang, ia mengurung diri di ruang kerja. Pikirannya keliaran entah kemana. Sumi sudah tak ada dalam prioritas pertama lagi baginya. Yang ada hanya usaha untuk  melenyapkan kesunyian yang makin hari makin sempurna. Satu malam yang tak pernah  terduga, ia mendapat kabar dari seseorang yang kabarnya lama tak ia dengar.
“Aku sedang ada di kotamu,” pesan itu membuat ia terbelalak.
“Ning? Kamukah ini?” gumamnya sambil mengamati foto yang muncul di layar handphonenya. Tak perlu berpikir lama ia membalas pesan itu dan mereka membuat janji untuk saling bertemu.
***
“Kau makin tampak matang saja, De?” suara itu membuatnya gemetar. Tapi ia berhasil mengendalikan keadaan. Beberapa batang rokok membuat napasnya sedikit mudah diatur. Ia tak berani menatap wanita yang ada di depannya.
“Kau dinas ke kota ini dengan keluargamu?” tanyanya berusaha memperlihatkan kewajaran. Namun wanita di depannya menggelengkan kepala berkali-kali seperti berusaha melakukan penolakan atas pertanyaan itu.
Ning adalah wanita yang lembut, tak sekuat dan setegar istrinya yang saat ini sedang mempertahankan kesetiaannya meski beberapa kali ia merasa menjadi wanita yang tak berguna. Wanita yang tak mampu memberi keturunan hanyalah wanita yang layak untuk menyerahkan nasib pada sebuah perselingkuhan atau poligami. Kali ini ia masih melihat Ning yang sama dengan beberapa tahun lalu. Wajah manis yang murung dan tak pernah ada yang tahu apa penyebabnya.
“Berapa lama kau akan singgah di sini?”
“Mungkin tiga hari. Apa kamu mau menemani aku?” balasnya dengan tatapan memohon.
“Entahlah, banyak sekali  pekerjaan yang harus aku selesaikan dalam minggu ini.”
Hari makin larut dan mereka masih saja sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesaat ia melupakan apa saja yang membuat otaknya lelah. Ia biarkan malam itu mengalir apa adanya seperti mendung yang bergeser pelan – sangat pelan dan aroma tanah basah karena hujan menguar. Matanya memejam, sengaja membiarkan hidungnya menghirup dingin yang dikirim semesta lewat sekujur tubuh wanita yang ada di depannya.
Mereka terbawa suasana, berusaha saling melupakan apa saja yang ingin melintas dalam pikiran. Tak ada suara tombol-tombol laptop yang membentuk irama musik klasik, tak ada suara Sumi yang merajuk dan memohon agar tak ditinggalkan hanya karena belum bisa memberi keturunan. Malam ini ia menjelma kucing jantan yang mengendus-endus, menjilati tubuh seekor kucing betina. Mereka berdua menggelepar, merintih, mengerang, mendesah, kemudian terdengar napas yang terengah-engah – panjang tak tertahan dengan kedua tangan yang mencengkeram.  Mereka lupa beberapa kesedihan yang mereka bawa sampai matahari menembus kelambu dalam kamar.
***
“Aku harus pulang, Ning.” Ia mengenakan pakaiannya secepat ia melupakan adegan semalam. Apa yang bisa dilakukan wanita lemah yang hanya bisa menjadi pemuas dan melipur laki-laki yang sedang butuh dimanja? Diam, wajah Ning tertunduk dan ia tak mampu menangis karena ia sudah lelah menangis.
Ning hanya menulis surat dan berharap De membacanya ketika pesawat sudah membawanya pergi meninggalkan.
De, terima kasih kamu sudah membuat aku merasa kecewa kedua kalinya. Dulu aku masih berusaha menerima ketika kau meninggalkan aku di kampung dan memutuskan merantau untuk belajar dan kau berjanji suatu saat akan kembali. Dan kau meninggalkan aku. Dan saat ini, entahlah, De. Apakah aku masih bisa memaafkan kamu dengan apa yang kau perbuat padaku. Seharusnya kau menjagaku, De. Dan bukan memanfaatkan aku. Maaf, kalau kali ini aku tak bisa membuat kamu tenang dalam hidupmu. Aku akan memutuskan untuk tinggal – dekat denganmu.
Perasaan dosa menghantuinya. Tapi ia meyakini apa yang dilakukannya bersama Ning adalah hal wajar yang dilakukan dua manusia dewasa dengan penuh kesadaran. Seharusnya Ning tak perlu marah denganku, gumamnya dalam hati berusaha melakukan pembenaran pada apa yang terjadi. Waktu membantunya melewati, melupakan apa yang terjadi. Sebuah pengkhianatan.
***
Tak ada mendung pagi ini. Hanya ada kabar gembira yang dibawa Sumi untuknya. Wanita itu tergopoh-gopoh menemuinya di teras sambil mata yang berkaca-kaca.
“Aku hamil, bang. Kita akan punya anak.”
Ia terperangah dan tangis mereka meledak bersama, saling memeluk dan mengucap syukur. Ia berpikir bahwa tak akan ada lagi rasa sepi dalam hidupnya. Ia membayangkan betapa sebentar lagi hidupnya akan sempurna. Menikah dan memiliki keturunan adalah salah satu kesempurnaan hidup.
Namun ia salah, karena pada kenyataannya tak pernah ada kesempurnaan dalam hidup. Sama halnya kecemasan yang muncul ketika sepuluh bulan menanti suara tangis bayi dari rahim istrinya. Kecemasan yang sekali lagi mendatangkan insomnia dalam hidupnya berminggu-minggu lamanya.
“Istri bapak mengalami hamil anggur dan terpaksa kami akan melakukan tindakan pada rahimnya.” Ia merasa tidak mendengarkan penjelasan dari seorang dokter tentang apa yang dialami Sumi, melainkan ia sedang ditampar oleh nasib dan pada akhirnya ia menyerah dan bibirnya kelu ketika membaca sebuah pesan dari seseorang:
Terima kasih, De. Kau dan istrimu begitu memanjakan aku. Sepuluh bulan waktu yang sangat cukup membuat aku bahagia karena begitu dekat denganmu. Sangat dekat sampai kau tak pernah menyadarinya. (*)
  




April

/1/
april dengan musimnya
sepasang burung menari
berputar di atas sawah
memanen mimpi mimpi petani

kicaunya yang riang
samar terdengar, serupa nyanyian
dari surga

suaranya memantul pada
dingin dinding lembah
menjauh lalu menghilang
serupa angin yang merebahkan tubuh sunyi
di bawah langit telanjang

/2/
aku berjalan menuju timur – pantura
melewati hutan rimbun
pohon pohon rahasia
gubuk mungil dengan cahaya redup
menemui suara suara sunyi

:suara yang diciptakan
dari wajah diam perempuan

langkahku terhenti di bibir pantai
ketika laut mengirim buihnya pada sepasang kaki

aku sendiri – bebas!
dalam malam gaib pulau merah
memandang bintang,
ombak, dan tipak di atas karang

/3/
april dengan musimnya
membawa perjalanan pada legenda
dua ratus empat puluh tujuh tahun silam

bersama april
aku meninggalkan cemas
di sebalik letupan kawah
pada sebuah dusun yang damai


Pagi di Bulan April

debu yang diterbangkan angin, pada sisa-sisa april 
dengan tangan pucat oleh dingin dini hari, ia menulis sebuah fragmen:
pelukan hangat, mata berair, dan senyum yang sembunyi antara ribuan wajah
nampak di atas bukit, kota-kota kecil begitu tak berjarak dengan sekumpulan
awan senyap – tak terlihat keramaian di sana. hanya lampu-lampu yang
berdialog dengan langit – semesta

kaki-kaki kuat lalu lalang, melintas di setapak berkerikil dan penuh pasir
mereka meraba nasib hari ini lewat roda-roda yang ditariknya
menyimpan wajah wanita dan bocah kecil di napasnya
yang sebentar datang sebentar hilang

ia memejamkan mata membiarkan angin menerbangkan tubuhnya
serupa kapas ia melayang-layang, ringan tak ada beban
ia tak menyoal takdir membawanya

terbang ke angkasa, tenggelam di dasar laut, tersesat di rimbunan pohon, atau bahkan jatuh ke jurang curam

sampai pada ia terbangun karena sebuah uluran tangan


Apa Kau Masih Menunggu April?

/1/
kaki kita melangkah – serasi
pada sebuah tanjakan juga turunan
aku di kiri dan engkau di kanan
kau tak ingin menjauh, tak juga meninggalkan
sesekali jalanan licin mencuri kebersamaan
betapa menyakitkan untuk bahagia

/2/
lalu ia bercermin dan berucap
apa aku bisa menemuinya serupa hari ini?
ya, bisa: suara dalam cermin memantul
pada dinding, langit-langit kamar

lalu tangan mereka menyatu
bergandengan
menggenggam
erat
kemudian berjarak

tak boleh sedih sebab mereka yakin
setiap yang ada akan tiada
dan mereka akan bersama dalam ketiadaan






L Margi, lahir dan besar di Surabaya. Mahasiswa Pascasarjana Prodi Dikdas di Universitas Negeri Surabaya.


Comments

Recent

Bottom Ad [Post Page]

Popular Posts

Trending

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Pageviews

Archive

Random Posts

Search This Blog

Follow us

Comments

Recent Posts

Subscribe Here

Instagram

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here. This is an optional text area which you can hide or delete from the layout. Its totally dependent upon you if you want this text area or not.

Instagram Photo Gallery

My Instagram

Travel the world

Full width home advertisement

featured Slider

Pages

Author Description

Hey there, We are Blossom Themes! We are trying to provide you the new way to look and use the blogger templates. Our designers are working hard and pushing the boundaries of possibilities to widen the horizon of the regular templates and provide high quality blogger templates to all hardworking bloggers!
Adbox

About me

Hi there, I’m Marina – a girl love fashion and love to express herself with her own sense of style.

Popular posts

randomposts

My Photostream

A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr

LATEST POSTS

Post Page Advertisement [Top]

Climb the mountains