bertahan dalam sebuah kegilaan adalah salah satu usaha menunggu waktu 
dimana akan ada sesuatu yang lenyap
kita hitung saja dari hari ini ya? 
apa yang terjadi pada pagi, siang, dan malam

bahagia atau sedih yang lebih beruntung
tawa atau air mata yang lebih sering berkunjung

andai saja ada yang mengajarkan tentang menentukan pilihan
atau melatih untuk menerima sebuah keputusan
mungkin tak akan pernah ada yang saling menyakiti atau tersakiti

mereka dan terlebih diriku sendiri

maaf,
ketika aku memilih untuk lenyap, itu karena aku sudah tak berani hidup


Bertahan dalam sebuah kegilaan adalah salah satu usaha menunggu waktu. Dimana aku akan segera lenyap. Kita hitung dari hari ini ya? Apa yang terjadi dalam pagi, siang, dan malamku. 

Bahagia atau sedih yang lebih berpihak
Tawa atau air mata yang lebih aku suka

Kalau saja aku diajarkan tentang menentukan pilihan
Atau aku dilatih untuk menerima sebuah keputusan
Mungin aku tak akan pernah menyakiti semuanya
Mereka dan terlebih diriku sendiri

Maaf, 

Kalau saja aku mati itu karena aku sudah tak berani hidup

Mula sekali aku mengetahui nama Yetti A.KA adalah ketika aku ngobrol dengan salah satu teman dari Malang. Saya menyukai tulisan-tulisannya dan jika sudah begitu pasti saya akan mencari tahu buku apa saja yang sudah ia baca atau mungkin penulis siapa saja yang dia suka. Aku yakin dari tulisan-tulisannya yang asyik pasti lahir dari bacaan yang bergizi. Waktu itu saya minta referensi cerpen siapa saja yang harus saya baca, dan dia bilang cerpen Yetti A.KA.
“Coba search di internet dan kunjungi blognya.” ujarnya waktu itu.

Saya milai membaca beberapa cerpennya dan kebetulan waktu itu hari Minggu. Rutinitas minggu pagi nongkrong di penjual susu sapi sambil membeli Jawa Pos, Kompas, dan Radar Surabaya. Membuka-buka cerpen dan puisi. Eh, ternyata cerpennya Yetti A.KA yang waktu itu judul cerpennya “Perempuan yang Memegang Tali Anjing”. 
Memang tulisan-tulisannya asik. Bahkan ada beberapa cerpennya yang ketika saya membacanya emosi bisa naik turun seperti sedang naik Roller Coaster. Seketika itu buku-bukunya saya masukkan dalam daftar list yang harus ada di perpustakaan pribadi saya. 
Buku Kumpulan Cerpen Yetti A.KA
              (Koleksi Foto Pribadi)

Saya mulai mencari buku-bukunya dan awal sekali saya mendapatkan buku kumpulan cerpen “Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu”. Kemudian tak berapa lama saya mendapatkan lagi bukunya yang berjudul “Penjual Bunga Bersyal Merah.” Dari dua buku itu aku ketagihan baca karyanya. Saya coba mencari buku-bukunya yang relatif baru, karena saya yakin kalau buku yang lama pasti susah sekali didapat. Kalaupun ada pasti di lapak online dan saya  tak suka belanja online. 

“Peri Kopi” adalah buku incaranku. Beberapa waktu mencarinya di toko buku yang biasa saya singgahi sudah tak ada. Makin penasaran saja rasanya sampai pada suatu sore ketika saya pulang kuliah, saya membelokkan motor ke salah satu toko buku terbesar di Surabaya. Dan akhirnya dapatlah buku itu. 
“Hmmm, ternyata novel.” Hahaa … 
Saya tak pernah suka baca novel. Tetapi dengan pengalaman membaca cerpen-cerpennya, saya yakin meski buku ini sebuah novel pasti gaya menulisnya tak akan beda dan akan tetap sama asiknya untuk dibaca. 
Bulan kemarin aku melihat postingan buku barunya yang akan terbit. “Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu”. 

Memang harus sabar untuk menunggu buku itu ada di toko buku langgananku yang setiap hari memberi best price dengan diskon lumayan besar bagi 100 pembeli pertama. Itu memang resiko kalau tak suka belanja online. Tapi tak apa, karena Surabaya adalah kota yang tak pernah sulit mencari bermacam buku terlebih buku penerbit basabasi selalu lengkap di toko buku langgananku itu. 

Hari ini beberapa teman mengajak ke toko buku untuk mencari beberapa buku literatur. Dan iseng aku menuju komputer toko untuk cek stok buku, ternyata buku Yetti A.KA sudah terpajang. 
Lha saya trus mau bilang apa ???
Tak mau bawa buku itu pulang ????
Ya tanggung dong, jadi ambil saja dengan pertimbangan aji mumpung. 
“mumpung di toko buku, mumpung sudah ada, dan mumpung belum habis.” meski bulan ini anggaran untuk beli buku terlalu berlebih. 
Seperti biasa, saya dan teman-teman tak langsung pulang, tetapi duduk di cafe toko buku itu. Memesan makanan dan minuman, juga membuka segel buku dan membacanya. 
Cafe dimana saya pernah diajari menulis puisi oleh dia…
Ya, dia. Penyair Hebatku. hahaha

Selamat berburu buku baru Yetti A.KA ya ..,
Pasti gak bakal menyesal deh. Paling tidak, buat kalian yang lagi galau tak bisa memaafkan orang yang sudah sakiti kalian, atau kamu baru saja di blokir orang tanpa kalian tahu alasannya dan itu buat kalian merasa terhina, dengan memegang dan membaca buku Yetti A.KA pasti akan lenyap seketika. Maksud saya lenyap ketika kalian membaca buku itu sampai habis. Setelah itu urusan hati kalian mau dilanjut apa nggak galaunya. Hahahaha

Semoga bahagia selalu






Mula sekali aku mengetahui nama Yetti A.KA adalah ketika aku ngobrol dengan salah satu teman dari Malang. Saya menyukai tulisan-tulisannya dan jika sudah begitu pasti saya akan mencari tahu buku apa saja yang sudah ia baca atau mungkin penulis siapa saja yang dia suka. Aku yakin dari tulisan-tulisannya yang asyik pasti lahir dari bacaan yang bergizi. Waktu itu saya minta referensi cerpen siapa saja yang harus saya baca, dan dia bilang cerpen Yetti A.KA. “Coba search di internet dan kunjungi blognya.” ujarnya waktu itu. Saya milai membaca beberapa cerpennya dan kebetulan waktu itu hari Minggu. Rutinitas minggu pagi nongkrong di penjual susu sapi sambil membeli Jawa Pos, Kompas, dan Radar Surabaya. Membuka-buka cerpen dan puisi. Eh, ternyata cerpennya Yetti A.KA yang waktu itu judul cerpennya “Perempuan yang Memegang Tali Anjing”. Memang tulisan-tulisannya asik. Bahkan ada beberapa cerpennya yang ketika saya membacanya emosi bisa naik turun seperti sedang naik Roller Coaster. Seketika itu buku-bukunya saya masukkan dalam daftar list yang harus ada di perpustakaan pribadi saya. Buku Kumpulan Cerpen Yetti A.KA (Koleksi Foto Pribadi) Saya mulai mencari buku-bukunya dan awal sekali saya mendapatkan buku kumpulan cerpen “Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu”. Kemudian tak berapa lama saya mendapatkan lagi bukunya yang berjudul “Penjual Bunga Bersyal Merah.” Dari dua buku itu aku ketagihan baca karyanya. Saya coba mencari buku-bukunya yang relatif baru, karena saya yakin kalau buku yang lama pasti susah sekali didapat. Kalaupun ada pasti di lapak online dan saya tak suka belanja online. “Peri Kopi” adalah buku incaranku. Beberapa waktu mencarinya di toko buku yang biasa saya singgahi sudah tak ada. Makin penasaran saja rasanya sampai pada suatu sore ketika saya pulang kuliah, saya membelokkan motor ke salah satu toko buku terbesar di Surabaya. Dan akhirnya dapatlah buku itu. “Hmmm, ternyata novel.” Hahaa … Saya tak pernah suka baca novel. Tetapi dengan pengalaman membaca cerpen-cerpennya, saya yakin meski buku ini sebuah novel pasti gaya menulisnya tak akan beda dan akan tetap sama asiknya untuk dibaca. Bulan kemarin aku melihat postingan buku barunya yang akan terbit. “Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu”. Memang harus sabar untuk menunggu buku itu ada di toko buku langgananku yang setiap hari memberi best price dengan diskon lumayan besar bagi 100 pembeli pertama. Itu memang resiko kalau tak suka belanja online. Tapi tak apa, karena Surabaya adalah kota yang tak pernah sulit mencari bermacam buku terlebih buku penerbit basabasi selalu lengkap di toko buku langgananku itu. Hari ini beberapa teman mengajak ke toko buku untuk mencari beberapa buku literatur. Dan iseng aku menuju komputer toko untuk cek stok buku, ternyata buku Yetti A.KA sudah terpajang. Lha saya trus mau bilang apa ??? Tak mau bawa buku itu pulang ???? Ya tanggung dong, jadi ambil saja dengan pertimbangan aji mumpung. “mumpung di toko buku, mumpung sudah ada, dan mumpung belum habis.” meski bulan ini anggaran untuk beli buku terlalu berlebih. Seperti biasa, saya dan teman-teman tak langsung pulang, tetapi duduk di cafe toko buku itu. Memesan makanan dan minuman, juga membuka segel buku dan membacanya. Cafe dimana saya pernah diajari menulis puisi oleh dia… Ya, dia. Penyair Hebatku. hahaha Selamat berburu buku baru Yetti A.KA ya .., Pasti gak bakal menyesal deh. Paling tidak, buat kalian yang lagi galau tak bisa memaafkan orang yang sudah sakiti kalian, atau kamu baru saja di blokir orang tanpa kalian tahu alasannya dan itu buat kalian merasa terhina, dengan memegang dan membaca buku Yetti A.KA pasti akan lenyap seketika. Maksud saya lenyap ketika kalian membaca buku itu sampai habis. Setelah itu urusan hati kalian mau dilanjut apa nggak galaunya. Hahahaha Semoga bahagia selalu

Months had too ham cousin remove far spirit. She procuring the why performed continual improving.

</div> <div style="text-align: justify"><div style="text-align: center;"> Hi, saya L Margi,&nbsp;</div> <div style="text-align: center;"> saya akan berbicara dan menulis tentang mimpi,&nbsp;</div> <div style="text-align: center;"> bayangan yang samar, terkadang juga realita.&nbsp;</div> <div style="text-align: center;"> Menulis segala yang ada dalam pikiran yang sudah tak lagi mau sembunyi.</div>  , <a href="#" style="     text-decoration: underline; ">click here →</a></div> <style> .about-widget-image {     max-height: 260px; overflow:hidden; margin-bottom: 15px; }  </style> </div>

“Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta.
“Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
Percakapan Alamanda dengan Mei pada cerpen Dongen Sebelum Bercinta adalah bukti bahwa


“Sekuat dan sehebat apapun manusia, pasti akan memberi ruang sembunyi untuk rasa takut dalam diri mereka.”


Sungguh, saya dibuat geli dengan cerpen ini. Lama sekali saya tahu bahwa buku-buku Eka kurniawan adalah buku yang bergizi layaknya makanan sehat yang harus saya konsumsi setiap hari. Tetapi entah, sejak saya banyak membeli, membaca, dan mengoleksi buku cerpen dan puisi dari beberapa penulis di perpustakaan pribadi saya hanya terpajang satu buku “Perempuan Patah hati yang kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.” Dan masih terbaca beberapa cerpennya.

Selepas berlama-lama di perpustakaan kampus sekedar melihat beberapa contoh tesis, rasanya pusing juga. Lirik ke kanan meja sebelah terlihat buku Eka Kurnawan “Corat Coret di Toilet”. Sepertinya si pemilik buku sedang sibuk mengetik bab-bab dari tesisnya. Saya meminjamnya dan seperti biasa, langsung lari ke daftar isi. Tiba-tiba saja pikiran nakal saya mulai muncul. Cerpen kedua dalam buku itu judulnya “Dongeng Sebelum Bercinta”. Meluncurlah saya ke halaman 11 dan ketika membaca beberapa paragraf, saya mengalami beberapa fase. Hahaha. Fase mulai dari senyum - menahan tawa - sampai tertawa terbahak – dan kemudian dibuat lemas oleh ending tentang kisah malam pertama Alamanda dan suaminya. Semestinya cerpen 11 halaman ini mampu membuat saya merenung. Dalam…sedalam dalamnya. Sampai pada kedalaman yang paling dalam.

Kenapa saya mengikat makna cerpen ini?
Pertama, cerpen ini mengajak saya menyadari bahwa ketakutan-ketakutan itu semacam monster yang selalu muncul. Jadi, saya atau siapapun tak mungkin bisa menghindar. Perbedaannya hanya pada bagaimana manusia itu menerima, menyapa, dan mengajak berdialog ketakutan dalam diri mereka. Pemberontakan Alamanda dalam hal perjodohan tanpa cinta yang tak mampu ia lakukan secara terang-terangan meski ia mengabaikan juga beberapa norma yang ada. Terlebih ketika ia mempunyai hubungan istimewa dengan lelaki romantik dan cerdas yang sama-sama mempunyai jiwa pemberontak. Laki-laki dari keluarga berada yang  meninggalkan segala kemewahan demi sebuah kebebasan. Bedanya, dalam pemberontakan alamanda, ia masih mengedepankan rasa takut. Takut miskin, takut dengan sanksi sosial yang pasti dihadiahkan oleh keluarganya jika ia menolak perjodohan dengan sepupunya. Pada akhirnya cintapun terkalahkan dengan ketakutan-ketakutan. Bahkan ketka ia sudah memutuskan menyerah dengan sekitar, ia juga masih saja menutupi ketakutan dalam dirinya. Ia membuat kesepakatan bercinta di malam pertama setelah ia selesai mendongengkan sebuah cerita. Hal itu semata ia tak ingin suaminya mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi.

Kedua, Saya merasa cerpen ini disampaikan dengan begitu santai bahkan saya menemukan beberapa percakapan yang sempat membuat saya berpikir bahwa Alamanda adalah tokoh yang sangat nekat dan sedikit iseng. Salah satunya saya dapatkan percakapan ketika calon suaminya menyampaikan bahwa ia sudah menemui ayah Alamanda untuk meminangnya.
“Sayang, aku sudah melamar kepada ayahmu.”
“Begitu?” Alamanda berkata acuh tak acuh.
“Kapan kau akan menikah dengan ayahku?”
Betapa terbahaknya saya membaca percakapan ini, membayangkan seandainya saja saya yang mengatakan itu.

Ada juga permintaan nekat Alamanda pada kekasih pengecutnya, agar ayahnya membebaskan ia dari perjodohan tanpa cinta.
“Sayang, perkosalah aku!” Alhasil sang kekasih hanya diam mematung.

Dan yang paling konyol ketika saya membaca pada malam suami Alamanda ngompol dalam tidurnya karena sudah lebih dari satu bulan pernikahan mereka tanpa ada malam pertama; tanpa bercinta.
“Nah, kan!” Tiba-tiba suara suaminya membuyarkan semua lamunannya
            “Kenapa?” Tanya Alamanda.
            “Aku ngompol.” Jawab si suami.
            “Sebesar ini kau ngompol?”
            “Bukan ngompol anak-anak, sayang.”

Hmmm….membaca cerpen ini cukup mengocak perut juga rasanya.
Tetapi pada prinsipnya, saya sangat paham bahwa menyambut dan menerima ketakutan-ketakutan dalam diri dengan keramahan tak semudah memesan milo panas pakai es di warung kopi sekitaran Yogyakarta.
Sungguh….sangat tak mudah. Satu-satunya cara adalah pelan-pelan saja, menyapanya dengan kerlingan mata
“Hei, ketakutan. Apakah kau bahagia menemui aku?”

Semoga Bahagia Selalu

Comments

Recent

Bottom Ad [Post Page]

Popular Posts

Trending

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Pageviews

Archive

Random Posts

Search This Blog

Follow us

Comments

Recent Posts

Subscribe Here

Instagram

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here. This is an optional text area which you can hide or delete from the layout. Its totally dependent upon you if you want this text area or not.

Instagram Photo Gallery

My Instagram

Travel the world

Full width home advertisement

featured Slider

Pages

Author Description

Hey there, We are Blossom Themes! We are trying to provide you the new way to look and use the blogger templates. Our designers are working hard and pushing the boundaries of possibilities to widen the horizon of the regular templates and provide high quality blogger templates to all hardworking bloggers!
Adbox

About me

Hi there, I’m Marina – a girl love fashion and love to express herself with her own sense of style.

Popular posts

randomposts

My Photostream

A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr

LATEST POSTS

Post Page Advertisement [Top]

Climb the mountains