Siapa yang suka traveling ala backpacker?

Tentu saja akan banyak hal yang menantang jika kita traveling semacam ini. Apalagi buat para petualang dengan budget minim. Backpacker identik didefinisikan sebagai: aktivitas traveling dengan dana efisien dan kepuasan maksimal; transport yang penting bisa nyampek, tidur yang penting bisa merem, makan yang penting bisa kenyang; pergi jalan-jalan ke tempat baru dengan bahagia. Meskipun demikian kalian harus memperhitungkan secermat mungkin supaya kalian tidak akan kere di kota atau negara orang. 

Pengalaman saya bulan lalu melampaui apa yang namanya backpacker. Kalian bisa bayangkan nggak ke Yogya yang notabene banyak kota wisata dan nekad hanya dengan uang 335.000 rupiah selama empat hari. 

Karena saya harus pergi hari itu juga maka tiket kereta yang paling dekat dengan keberangkatan adalah tiket yang lumayan mahal, akhirnya saya beli juga dengan mengeluarkan uang 195.000 rupiah. Lima jam perjalanan membuat saya berpikir apakah saja akan bisa balik ke kota saya atau tidak. Tapi tak penting untuk dipikirkan karena sampai saja belum, lantas kenapa berpikir pulang?

Saya hanya butuh tumpangan untuk menuju sebuah kafe dari stasiun Yogyakarta. Alhamdulillah, ada salah satu teman yang bersedia menjemput saya dan mengantar saya ke kafe basa-basi Sorowajan. Lega rasanya dan ia termasuk tuan rumah yang sangat ramah karena secangkir kopi gratis dipesankan untuk saya. Setidaknya untuk mengganjal perut lapar saya. 

Saya mau ke mana? Entahlah. Yang pasti saya harus tahu tempat itu strategis. Yang saya maksud strategis adalah dekat dengan masjid. Setelah teman saya pamit, maka sendirilah saya dengan banyak manusia di sekeliling saya yang saling berkelompok, ngobrol, dan diskusi segala macam. Saya tanya pada salah satu karyawan jam berapa kafe ini tutup? Dan ternyata jam empat pagi baru close order. Aman dah, kan jam segitu mau subuh. Berbekal iPhone 6+ dan wifi gratisan saya menyibukkan diri agar pagi cepat datang. 
Hehe, berharap pagi? Emang ada apa dengan pagi? Gak penting juga sih malam, siang, atau, pagi. 
Terlintas jika terpaksa iPhone saya jual untuk keperluan saya di sana tapi mikir juga lalu saya pakai apa, sedangkan iPhone 5 saya gak bersahabat. Gak bisa dipakai narik wifi. 

Akhirnya tanpa sengaja saya chat dengan seseorang dan rizky itu tak akan tertukar. Beliau menemui saya dan dijamunya saya dengan nasi dengan ikan ayam dan sayurnya. Ditawarinya saya menginap di kos adiknya dan saya memilih di kafe karena saya ingjn menikmati bagaimana rasanya hari dengan serba kekurangan. 

Oh ya, I love Yogya. Di sana tidak seperti di kota saya. Masjid di sana buka 24 jam sehingga jika saya memang benar benar butuh istirahat dengan duduk di halaman masjid, pasti bisa. Tapi tak saya lakukan dan saya hanya menumpang membersihkan diri saja. Kalau di kota saya mah, masjid akan dikunci jika malam tiba. Payah kan? 

Mungkin saja backpacker akan menentukan rute tempat yang dituju dan memuaskan hati. Beda dengan saya. Rute yang saya tempuh selama empat hari adalah kafe basa-basi, kafe joglo, kafe kopas, masjid. Tiga kafe itu bersebelahan sehingga saya tak butuh transport untuk menempuhnya. Dan masjid tak kau dari sana. 

Saya mulai harus sisihkan uang untuk tiket pulang dan saya search di PT KAI untuk mencari tiket paling murah. Yessss, saya dapat tiket dengan harga 95 ribu. Dan kalian tahu uang 45 ribu yang saya punya saya sisihkan 10 ribu untuk gojek karena saya sudah coba search harga gojek ke stasiun. Sisanya sudah saya gunakan menikmati kopi setiap saat dan tiga tempe yang dilumuri tepung. Saya lupa sih harga kopinya berapa yang pasti empat hati perut saya penuh dengan kopi yang berhasil membangunkan asam lambung saya. 

Hidup itu indah bahkan ketika kita hanya menikmati kopi dan tempe lumur tepung, asal gak pakai nangis aja. 




Dokumen Pribadi




Data Buku:
Judul      : Negeri Ganjil
Penulis   : Hendratno
Penerbit  :Delima
ISBN      : 978-502-53505-1-1
Tebal      : xviii + 110 halaman
Tahun     : November 2018

Setiap jiwa memiliki keresahan-keresahan dalam memandang segala yang ada di sekitarnya. Sebagian manusia mampu menyampaikan pemberontakan batin secara lisan ketika dihadapkan pada ketidaknyamanan, ketidakadilan, ketimpangan hidup. Tapi tak sedikit pula manusia dibenturkan pada keadaan yang membuat mereka harus tak bersuara.

Hendratno - dosen Universitas Negeri Surabaya yang juga sangat konsen di dunia sastra, penulis buku ini berusaha menyadarkan kita bahwa menyampaikan sesuatu tidak harus dengan suara yang lantang. Sebuah tulisan juga mampu membangunkan pikiran manusia dan mengubah keadaan, karena tulisan lebih abadi dari apapun seperti yang disampaikan Pramoedta Ananta Toer,"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)."

Dalam bukunya, penulis menyajikan  kumpulan sajak dari fragmen-fragmen yang ditangkap dari berbagai keadaan.

Judul buku sekumpulan sajak “Negeri Ganjil” menyiratkan banyak pertanyaan. Membuat penasaran pembaca tentang apa yang akan disampaikan penulis melalui sajak-sajaknya. Saya sangat yakin dari 108 sajak dalam buku ini akan mewakili setiap rasa kekecewaan, kegundahan, juga kepasrahan sebagai manusia yang tak punya daya tanpa Tuhannya. 

"Betapa ganjilnya negeri ini
Padi melimpah di hamparan sawah
Masih saja membeli di negeri sebelah" 

Tiga kalimat ini ditulis di halaman awal sebelum sajak-sajaknya. Seolah ingin menegaskan bahwa segala yang tabu untuk dibicarakan kenyataannya keliaran di pandangan kita.

Tak seperti biasanya saya membaca buku puisi secara acak. Kali ini saya membaca dari awal halaman ke lembar-lembar berikutnya sampai saya berhenti pada satu puisi berjudul" Pohon Asam Depan Rumah"

Dulu ujung halamanku dua puluh meter dari jalan besar.
Sekarang tinggal sejengkal 
Dimakan zaman
Pohon asam dilindas oleh buldozer
Pohon nangka hilang entah ke mana 
Tak ada ganti rugi
Tak ada yang peduli (sajak hal 9)

Fenomena di mana tanah lapang sudah langka. Tak ada lagi pemandangan sejuk oleh rindangnya pohon atau lapangan luas tempat anak-anak bermain layang atau bola. Semua disulap menjadi gedung-gedung tinggi juga megah, tapi tak semua manusia mampu masuk ke dalamnya. 

Saya semakin bergeming ketika membaca sebuah sajak pendek dengan judul " Menjual Agamamu Lagi." Sajak paling pendek dalam buku ini.

Agar kamu masuk surga sendiri
Yang lain persetan (sajak hal 35)

Penulis sajak pendek ini berusaha menyadarkan kita dari amnesia. Betapa kita sudah lupa bagaimana agama mengajarkan tentang kedamaian.Tidak jarang kita melihat saudara kita saling mencela, bertikai hanya mempermasalahkan akidah. 

Dalam buku ini, penulis juga berusaha me-review ingatan di tahun 1990 dengan setting pasar Wonokromo. Sajak yang berjudul "Sepanjang Rel Kereta Api Tahun 1990-an," menceritakan tentang dua manusia yang berjuang mempertahankan hidup dengan cara tak layak. Entah karena nasib atau hanya karena tak ada kesempatan lebih baik bagi mereka.

Sambil bercanda dengan teman wanitanya.
Cukup untuk sebulan makan, katanya.
Sembari membuang dompet sekenanya setelah menguras isinya.
Pelacur, gincu tebal dan wangi minyak murahan menusuk hidung.
Menunggu dengan sabar lelaki hidung belang yang menawar dengan
Harga yang tak wajar. (Nukilan sajak hal 29)

Bagi yang suka dengan sajak-sajak tentang cinta, jangan khawatir. Buku ini juga menyampaikan perasaan cinta baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan lewat sajak-sajaknya yang kuat. 

Kumpulan sajak penghapus keresahan

Buku kumpulan sajak Negeri Ganjil merangkum berbagai realita hidup yang tak pernah sempurna. Manusia tak mungkin hanya memandang kebahagiaan atau kewajaran di mana-mana. Namun sebaliknya, karena kesedihan dan ketidakwajaran itu lebih mendominasi dalam hidup. 

Dan saya masih yakin, puisi adalah salah satu cara kita bersuara dan membebaskan kita dari keresahan, karena sejatinya setiap puisi akan selalu menyuarakan tentang kemanusiaan.




Wajah Aira terlihat merah; marah. Beberapa kali ia mencoret kalimat yang ia tulis pada selembar kertas di meja. Bu Shifa, guru kelasnya meminta ia menulis cerita pendek untuk mengikuti lomba antar kelas. 
“Aira yang akan mewakili kelas kita ya, nak,” Tukas Bu Shifa pagi itu dan Aira menganggukkan kepala tanda setuju. 
Ia sangat suka sekali menulis, tetapi entah hari ini tak ada satu ide pun yang bisa ia jadikan sebuah cerpen. Bahkan di kamar tempat ia biasa merasa nyaman untuk menulis. Karena kesalnya ia merobek kertas  di depannya menjadi sobekan-sobekan kecil; meremasnya dan melempar sesukanya. Mukanya ditekuk seperti lipatan baju yang kusut.
“Aduh, kenapa sampai melempar seenaknya gitu sih?” Suara Kak Fara terdengar sembari masuk kamar Aira. 
“Sebel, dari tadi gak ada ide nulis cerpen buat lomba,” Gerutunya.   
Aira merebahkan tubuhnya yang kurus di tempat tidur berspei polkadot warna merah. Ia merangkul guling kesayangannya sambil memiringkan badan dan memunggungi Kak Fara yang duduk di pinggir tempat tidur. Tangan Kak Fara mengelus rambut adik kesayangannya itu. 
“Kalau pikiran sedang lelah, istirahat saja dulu.” Ucap Kak Fara sambil terus mengelus rambut Aira.
“Besok cerpen itu harus selesai dan dikumpulkan, Kak.”
“Iya, tapi tidak harus dengan merobek dan membuang kertas dengan percuma, kan? Kalau saja Aira tahu berasal dari apa selembar kertas itu dibuat, pasti akan memanfaatkan dengan baik lembaran-lembaran kertas itu.” 
Beberapa detik kemudian Aira langsung memutar tubuhnya menghadap Kak Fara. Ia menatap wajah kakaknya dengan penasaran. 
“Memangnya darimana kak?”
“Lembaran-lembaran kertas itu dibuat dari pohon yang sudah ditanam selama lima tahun. Satu pohon berusia lima tahun itu hanya bisa menjadi lebih kurang 80.000 lembar kertas.”
“Biasanya dari pohon apa saja yang digunakan membuat kertas?” Tanya Aira semakin penasaran.
“Kertas dibuat dari kayu yang berasal dari pohon kayu lunak misalnya pohon pinus.”
“Hmm….begitu ya,” Suara Aira terheran-heran karena ia baru tahu asal dari selembar kertas yang biasa ia gunakan menulis.  
Aira mengubah posisi tubuhnya. Saat ini ia duduk sambil tetap memangku guling di atas tempat tidurnya. Ada yang dibayangkan dalam pikirannya, tetapi lamunannya segera hilang mendengar suara kak Fara melanjutkan ceritanya.
“Kalau saja semua orang tahu bagaimana proses membuat kertas pasti mereka akan selalu berhemat dan berhati-hati dalam menggunakannya. Bayangkan saja, butuh waktu lima tahun untuk bisa memproduksi 80.000 lembar kertas dari sebuah pohon.”
“iya, kak. Ternyata banyak sekali ya manfaat dari sebuah pohon?”
“Tentu, selain bisa digunakan membuat kertas, pohon juga bisa memproduksi oksigen yang dihirup oleh manusia. Polusi udara juga bisa diatasi dengan adanya banyak pohon. Dan itulah kenapa alasan ayah dan ibu kita menanam pohon di pekarangan belakang rumah kita.”
“Ahaaa, aku jadi punya ide nih menulis cerpen untuk lomba besok.” Tiba-tiba Aira mengangguk-anggukan kepala sambil menjentikkan jari jempol dan jari tengahnya. Iapun memeluk tubuh kakaknya sambil berbisik, “Kak Fara memang hebat.” 
Akhirnya Aira menulis cerpen tentang “Gadis Kecil Penghuni Hutan Pinus” dan ia yakin besok akan siap mengikuti lomba cerpen antar kelas di sekolahnya.




Sebagian manusia memiliki keterbatasan dalam memahami apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tak sedikit yang menjadi korban dari ketidakmampuan mengatasi konflik batin dan pada akhirnya memicu melakukan tindakan-tindakan di luar nalar. 

Hidup itu haruslah ideal, baik-baik saja, tak perlu ada kegagalan, tak boleh ada kecewa. Siapa yang tak ingin semua ini? Tapi kita lupa bahwa hidup itu dinamis. Beberapa hal tersebut penyebab manusia selalu memelihara rasa takut. Terlebih hal ini akan terjadi pada orang yang dalam hidupnya selalu ada pada zona nyaman.

Avianti Armand mencoba mengusik pembaca dengan hal-hal unik seperti konflik cinta; ketidakharmonisan keluarga; beberapa pertanyaan atas eksistensi manusia. Dalam bukunya, ia menyajikan kumpulan cerpen dengan alur cerita yang tak terduga-duga. 

Judul buku kumpulan cerita “Kereta Tidur” diangkat dari salah satu cerpen dari lima belas cerita di dalamnya. Saya mencoba lebih awal menebak sejumlah cerpen di dalam buku ini pasti berkisah tentang sebuah petualangan atau mungkin saja perjalanan hidup seseorang. Dan ternyata di luar ekspektasi, pada cerpen “Kereta Tidur”, Avianti Armand—sebagai penulis buku ini—jauh menceritakan tentang petualangan batin dua manusia, bagaimana mereka menjaga rasa pada sebuah relationship yang tak wajar.

“Kita akan lupa,” Naomi mengeluh, sedikit sedih sedikit khawatir, meski tak bisa berbuat lagi. Mereka memang harus cukup puas dengan memori yang melekat pada benda-benda kecil.
“Kelak,” ujar lelaki itu yakin, “kita akan punya tempat untuk memajangnya. Ketika bulan lega dan segaris oranye di kaki langit.” (Kereta Tidur: 101)

Manusia—mungkin saja diantaranya saya, kamu, atau kalian—terlalu sibuk menciptakan kenangan-kenangan dalam setiap tipak perjalanan hidup, tetapi kita sering lupa menjaganya. Dalam cerpen ini, Avianti begitu jelas memotret tentang cerita yang bertolak belakang dengan kehidupan ideal atau kisah cinta yang wajar. Tentang sebuah perasaan sayang pada orang dan waktu yang tidak tepat, namun tak pernah ada kata korban atau dikorbankan.  

Avianti berusaha menegaskan pada cerita ini bahwa bahagia itu begitu sederhana, sesederhana Naomi (tokoh dalam cerita) menamai diri mereka: pengumpul “souvenir”- hal-hal kecil yang mampir sejenak, mengikat dia, lelaki itu, dan tempat-tempat. Seperti subuh ini, kamar ini, surat kabar kemarin, genggaman tangan di bawah bantal, remah keringat pada selimut, rambut kusut, senyum mengantuk, kopi asam yang tak pernah habis, dan cangkir biru laut yang menyisakan asap.

Namun, saya sangat yakin, jika salah satu dari kita membaca cerpen ini lalu menarik pada pemahaman agama, tentu kita akan memicingkan mata berusaha mencari di mana letak kebenaran dalam hubungan terlarang antara Naomi dan lelakinya. 

Tidak jarang relasi antara agama dan sastra memunculkan pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif. Begitu pula beberapa cerita pada buku ini. Kita lihat saja bagaimana tokoh dalam cerpen berjudul Matahari begitu sibuk mempertanyakan tentang Tuhan pada kekasihnya: ”Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan bukanlah matahari?”

Atau pada cerita berjudul Ayah yang mengisahkan lelaki tua yang selalu memberikan ciuman pada malaikat kecilnya dengan meninggalkan perih dan bekas yang semakin membuat ia meringis kesakitan,” Kamu seorang perempuan sekarang, ujarmu, dulu kamu adalah malaikat. Aku lebih suka disebut bejat. Sebab kini kita telah bercinta, di batas antara tanah dan air, di bawah ribuan bintang dan sapuan ombak, walau aku tahu itu tabu.” (Kereta Tidur: 110).

Inilah kenapa kita tidak selamanya bisa memperdebatkan karya sastra dengan hukum agama yang hakikatnya selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat, sedangkan jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat. Istilah chatarsis yang dikemukakan oleh Aristoteles menandakan bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif. 

Dalam buku ini, kalian juga akan temui sebuah cerpen yang paling pendek diantara cerpen lainnya: Pelajaran Terbang, cerita sebuah pertentangan batin manusia, antara mimpi dan realita, juga segala konsekuensinya. Avianti mengawali cerita dengan membenturkan manusia pada ketakutan-ketakutan yang seringkali menghentikan kita pada perbatasan. Antara rasa takut dan berani, waras dan gila.

“Kamu takut, tapi juga bergairah. Kamu akan sedih karena keterbatasanmu, tapi juga sadar, bahwa ini hanyalah soal pilihan. Pulang – tanpa pernah mencoba – dengan utuh dan selamat, atau sekali saja, hanya sekali saja sebelum mati, kamu merasakan terbang. Kamu mungkin mati, mungkin juga tidak.” (Kereta Tidur: 121)

Manusia tidak bisa menghindari perasaan takut, bahkan pada titik tertentu manusia berusaha menyelamatkan dirinya dari rasa takut dengan cara yang terkadang diluar dari prediksi kita. Misalkan saja sebuah kasus, seorang manusia yang ingin menangis, berteriak tapi takut dianggap gila, atau manusia yang ingin mati tapi takut bunuh diri, atau manusia petualang yang setelah melampiaskan birahinya, menghilang karena takut akan kehancuran karir dan nama baiknya. Memutuskan memilih zona aman adalah salah satu reaksi yang bisa dilakukan untuk merespon kasus-kasus tersebut. 

Dalam cerpen ini, Avianti berhasil menarasikan dengan baik bagaimana manusia harus melawan  dirinya sendiri. Ia memberi sebuah gambaran bahwa hidup bukan hanya sekedar bagaimana kita  merangkul rasa sakit dan takut, melainkan bagaimana sebuah keberanian menentukan pilihan mengakhiri rasa sakit dan takut dengan segala konsekuensi. 

Hal ini nampak pada ending cerita, di mana “aku” telah berhasil menyelesaikan pemberontakan dalam batinnya,”jika aku bisa terbang, maka aku akan melayang di udara seperti elang. Jika Tidak, aku cukup bahagia untuk jatuh.” (Kereta Tidur: 122)

Buku tentang sebuah perjuangan

Buku kumpulan cerita Kereta Tidur adalah sebuah gambaran realita hidup di sekitar kita yang bisa dialami oleh siapa saja. Kisah tentang perjuangan baik dalam kewajaran maupun ketidakwajaran. Perjuangan bagaimana mencintai, mendapatkan cinta, menunggu, meninggalkan, menjaga kenangan, melawan rasa takut, bahkan perjuangan meyakini sesuatu yang tidak semua orang mampu paham.

Apakah perlu membaca semua cerpen dalam buku ini setelah apa yang saya tulis? 

Tentu, setidaknya kita akan tahu betapa hidup itu tak hanya putih atau hitam, dan sedikit belajar bertanggung jawab atas rasa yang sudah kita bangun. Lebih dari itu, yang sangat menarik dari buku Kereta Tidur, sebuah cerita penutup yang mengajarkan betapa sebuah keyakinan itu dibutuhkan dalam setiap relasi. Pembaca bisa melihat begitu kuat keyakinan tokoh pada cerpen: “Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu.” dalam mencari cintanya. Ia menulis sebuah pesan dalam botol: “Aku akan mencarimu, sampai kau hilang lagi.”




Comments

Recent

Bottom Ad [Post Page]

Popular Posts

Trending

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

@templatesyard

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Pageviews

Archive

Random Posts

Search This Blog

Follow us

Comments

Recent Posts

Subscribe Here

Instagram

Hello, here you can tell something about yourself or you can put your blog description here or even you can add some quote of your choice here. This is an optional text area which you can hide or delete from the layout. Its totally dependent upon you if you want this text area or not.

Instagram Photo Gallery

My Instagram

Travel the world

Full width home advertisement

featured Slider

Pages

Author Description

Hey there, We are Blossom Themes! We are trying to provide you the new way to look and use the blogger templates. Our designers are working hard and pushing the boundaries of possibilities to widen the horizon of the regular templates and provide high quality blogger templates to all hardworking bloggers!
Adbox

About me

Hi there, I’m Marina – a girl love fashion and love to express herself with her own sense of style.

Popular posts

randomposts

My Photostream

A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr
A photo on Flickr

LATEST POSTS

Post Page Advertisement [Top]

Climb the mountains